Judul: Aku Andi, Kau Membacanya
Penulis: Risawi
Tebal: 426 halaman
Ukuran: 14 x 21 cm
Genre: fiksi (novel)
Harga: Rp150.000
Stok: 100 eksemplar
Segera terbit!
Kebenaran bukan sekadar konsep abstrak, melainkan pijakan utama dalam membangun kepercayaan, keadilan, dan tatanan masyarakat yang beradab. Setiap manusia pada dasarnya dianugerahi naluri untuk mengenali kebenaran, memahami perbedaan antara yang benar dan yang salah, serta dorongan batin untuk berpihak pada kejujuran. Naluri inilah yang menjadi fondasi etika dan kemanusiaan dalam kehidupan bersama.
Namun, dalam realitas kehidupan, naluri menjunjung kebenaran tersebut sering kali tidak berjalan lurus. Ambisi pribadi, kepentingan kelompok, serta arogansi kekuasaan kerap membutakan nurani manusia. Ketika keinginan untuk memiliki lebih, berkuasa lebih lama, atau diakui secara berlebihan menguasai pikiran, kebenaran perlahan tergeser ke pinggir.
Dalam kondisi semacam ini, kebenaran tidak lagi dipandang sebagai nilai yang harus dijaga, melainkan sebagai penghalang yang menghambat pencapaian tujuan. Manusia pun mulai membenarkan berbagai cara demi mencapai apa yang diinginkannya, meskipun harus mengorbankan prinsip moral.
Dari sinilah berbagai persoalan sosial bermula. Tindakan mencuri, manipulasi, korupsi, hingga kekerasan yang berujung pada penghilangan nyawa sering kali berakar pada kepentingan yang sama: harta, kekuasaan, dan relasi personal yang disalahgunakan. Ketika nilai kebenaran ditanggalkan, manusia kehilangan kendali etis atas tindakannya.
Hukum, norma, dan rasa kemanusiaan menjadi sekadar formalitas yang mudah dilanggar. Akibatnya, kerusakan tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga merembet pada tatanan sosial yang lebih luas, menciptakan ketidakadilan dan penderitaan bagi banyak pihak.
Fenomena inilah yang menjadi latar refleksi dalam novel Namaku Andi, Kau Membacanya Ini. Novel ini tidak sekadar menghadirkan kisah fiksi, melainkan potret kritis tentang realitas sosial yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Tokoh utama, Andi, digambarkan sebagai sosok yang harus berhadapan langsung dengan kerasnya dunia politik, kekuasaan, dan bisnis. Dunia yang penuh intrik, kepentingan tersembunyi, serta permainan kuasa tersebut menempatkan Andi dalam situasi yang serba dilematis, di mana setiap keputusan memiliki konsekuensi besar.
Dalam perjalanan ceritanya, Andi tidak hanya menghadapi ancaman terhadap karier atau reputasinya, tetapi juga ancaman terhadap keselamatan jiwanya. Ia dipaksa memilih antara mengikuti arus kepentingan yang menyimpang atau bertahan pada nilai kebenaran yang diyakininya.
Pergulatan batin inilah yang membuat novel tersebut menjadi relevan dan kuat secara moral. Namaku Andi, Kau Membacanya Ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali makna kebenaran, keberanian, dan integritas, serta menyadari bahwa mempertahankan kebenaran sering kali menuntut harga yang mahal.
Novel ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang penuh godaan dan kompromi, kebenaran tetap layak diperjuangkan.(*)